Batam – Aktivitas lalu lalang kendaraan roda 10 pengangkut tanah yang melintas dari arah Nongsa menuju Tiban dan berputar arah di lampu merah Vitka untuk mengantar material tanah ke lokasi reklamasi di Tanjung Tritip menuai keluhan masyarakat. Mobilitas truk yang berlangsung siang dan malam diduga menyebabkan kerusakan jalan serta menimbulkan debu tebal yang membahayakan pengguna jalan. (11/3/2026)
Kondisi jalan yang rusak parah dan berlubang kini menjadi ancaman serius bagi pengendara, khususnya roda dua. Selain itu, debu yang dihasilkan dari aktivitas kendaraan berat tersebut juga dikhawatirkan berdampak buruk terhadap kesehatan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang setiap hari melintas di jalur tersebut.
Sejumlah warga dan pengguna jalan meminta aparat Satuan Lalu Lintas (Satlantas) serta instansi terkait segera turun tangan untuk melakukan penertiban terhadap kendaraan roda sepuluh yang melintas tanpa pengaturan jelas, serta meminta pemerintah gerak cepat perbaiki jalan rusak di Sei Ladi.
“Kalau ini terus dibiarkan, bukan hanya jalan yang rusak, tapi bisa menimbulkan korban jiwa. Kami minta ada tindakan tegas dari Satlantas untuk mengatur lalu lintas truk tersebut,” ujar salah seorang warga.
Dampak dari kondisi jalan yang rusak itu pun sudah mulai dirasakan pengguna jalan. Aditya, seorang pengendara sepeda motor, mengalami kecelakaan setelah terjatuh akibat lubang jalan yang cukup dalam.
“Gara-gara lubang yang dalam itu pak, saya terjatuh. Luka di kaki, tangan, lutut, sampai perut,” ungkap Aditya.
Tidak hanya pengendara roda dua, pengguna mobil juga ikut merasakan dampaknya. Ari, seorang pengendara mobil, mengaku kendaraannya mengalami kerusakan cukup parah saat melintas di jalan tersebut bersama keluarganya.
Menurutnya, kondisi jalan yang berlubang dan dipenuhi pasir membuat kendaraan sulit dikendalikan, terutama saat melaju dari jalur medaki.
“Gara-gara jalan rusak parah, berlubang dan berpasir, bemper sampai kolong mobil saya rusak. Aduh pemerintah ini, kalau memang jalan berlubang jangan ada pasir di situ. Orang dari bawah sedang melaju, sangat berbahaya,” kata Ari kepada awak media, Rabu malam (11/3/2026). Pukul 21:45 wib.
Ia juga mempertanyakan tanggung jawab pihak terkait atas kerusakan jalan yang diduga dipicu oleh aktivitas kendaraan berat tersebut.
“Diduga akibat kendaraan roda sepuluh lalu lalang sampai jalan rusak. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Kita ini bayar pajak, tapi kalau jalan seperti ini bisa hancur mobil kami,” tegasnya.
Warga berharap pemerintah daerah bersama aparat Satlantas segera melakukan evaluasi terhadap aktivitas kendaraan berat yang melintas di jalur tersebut, termasuk mengatur jam operasional truk serta memastikan kondisi jalan tetap aman bagi masyarakat.
Jika tidak segera ditangani, masyarakat khawatir kerusakan jalan akan semakin parah dan berpotensi menimbulkan lebih banyak korban di kemudian hari.
Penulis : Topan
Editor : Reza




