BATAM – Krisis air bersih di Kota Batam kian tak terkendali. Bukan hanya gagal ditangani secara tuntas, persoalan mendasar ini kini berubah menjadi panggung konflik terbuka antara rakyat dan penguasa. Aksi unjuk rasa warga Tanjung Sengkuang di depan kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kamis (22/1/2025), berujung panas dan viral setelah diwarnai adu argumen langsung antara massa dan Kepala BP Batam, Amsakar Ahmad.
Alih-alih meredam emosi publik, sikap Amsakar justru memantik polemik baru. Bersama rekannya, Li Claudia Chandra, penampilan pimpinan BP Batam dalam aksi tersebut menuai kritik tajam. Publik menilai, empati dan ketenangan yang seharusnya menjadi fondasi kepemimpinan justru absen di tengah penderitaan warga yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan paling dasar.
Emosi Kepala BP Batam Tersulut, Aspirasi Warga Berubah Jadi Adu Mulut
Ketegangan bermula saat orator aksi, Samsudin, menyampaikan tuntutan warga dengan nada keras. Amsakar Ahmad, yang berada di atas mobil komando, tampak tidak terima dan menilai orasi tersebut mengarah pada serangan personal.
“Bapak jangan menyerang personal, Pak Samsudin!” bentak Amsakar di hadapan massa.
Pernyataan itu langsung dibantah oleh orator. Namun suasana tak mereda. Amsakar justru turun dari mobil komando dan mendekati massa dengan nada tinggi. Gestur tersebut dinilai banyak pihak sebagai kegagalan kepala lembaga strategis menjaga wibawa dan stabilitas di ruang publik. Di saat warga menuntut solusi, yang muncul justru adu emosi.
Rebut Mikrofon dan Retaknya Citra Kepemimpinan
Situasi semakin canggung ketika Li Claudia Chandra tertangkap kamera merebut mikrofon dari tangan Amsakar saat ia masih berbicara. Adegan ini dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kritik lanjutan.
Netizen menilai insiden tersebut bukan sekadar miskomunikasi, melainkan simbol buruknya koordinasi dan etika kepemimpinan BP Batam. Di tengah krisis air yang berkepanjangan, pimpinan lembaga justru mempertontonkan disharmoni internal yang dinilai tidak pantas dan mencederai kepercayaan publik.
Ledakan Kekecewaan Publik: “Kami Butuh Air, Bukan Emosi Pejabat”
Media sosial Batam pun dibanjiri komentar bernada keras. Warga menyuarakan kemarahan yang selama ini terpendam.
“Jadi Kepala BP Batam kok gampang terpancing emosi? Rakyat cuma minta air, bukan debat. Kalau tidak siap menghadapi protes, jangan duduk di jabatan,” tulis seorang netizen yang viral.
Komentar-komentar tersebut mencerminkan akumulasi frustrasi warga yang berhari-hari hidup tanpa pasokan air layak, namun justru disuguhi drama dan pembelaan diri dari pejabat yang seharusnya bertanggung jawab penuh.
Klarifikasi BP Batam: Transparansi atau Sekadar Peredam Kritik?
Menanggapi polemik yang meluas, BP Batam mengeluarkan pernyataan resmi. Amsakar Ahmad menyebut kehadirannya dalam aksi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab dan keterbukaan kepada masyarakat.
Ia menegaskan tidak ada diskriminasi dalam distribusi air bersih dan mengakui bahwa Kelurahan Tanjung Sengkuang termasuk stress area dengan tekanan air rendah.
“Azasnya berkeadilan. Tidak ada perbedaan pelayanan. Kami menurunkan armada tangki air sebagai langkah darurat,” ujar Amsakar dalam keterangan tertulis.
Namun bagi warga, pernyataan ini dianggap berulang dan normatif. Distribusi air melalui mobil tangki dinilai hanya solusi tambal sulam, sementara akar persoalan tak kunjung diselesaikan. Janji kerja keras pun kehilangan makna ketika krisis terus berulang dan kepala lembaga justru terseret konflik terbuka dengan rakyatnya sendiri.
Kini, sorotan publik tak hanya tertuju pada krisis air, tetapi juga pada kapasitas kepemimpinan BP Batam. Pertanyaannya kian tajam: apakah Kepala BP Batam masih fokus menyelesaikan krisis, atau justru tenggelam dalam pembelaan citra di tengah kemarahan rakyat? (Red)




