Oleh: Azhari bin H. Abdul Hamid Sandang
(Pemerhati Lingkungan Hidup)
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT merahmati negeri mulia Aceh Darussalam. Cobaan berupa banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh, bahkan hingga Sumatera Utara dan Sumatera Barat, mengiris pilu hati kita sebagai bangsa Aceh. Korban berjatuhan, harta benda rusak, dan tempat tinggal luluh lantak. Banjir tidak mengenal miskin atau kaya ketika ia datang, tak ada satupun yang mampu menghentikannya.
Hari ini saya dilanda kesedihan dan miris saat melihat sebuah video yang menampilkan seorang Muzakkir Manaf pemimpin tertinggi di Aceh menangis menyaksikan kondisi rakyatnya. Sangat wajar beliau bersedih, mengingat kondisi sosial dan ekonomi Aceh saat ini tentu memberikan beban yang sangat besar terhadap anggaran daerah. Sementara itu, pemerintah pusat belum menetapkan banjir Aceh, Sumut, dan Sumbar sebagai bencana nasional. Artinya, Pemerintah Aceh harus berjuang keras menggunakan anggaran daerah yang tersedia untuk menanggulangi keadaan ini.
Ujian Bagi Semua Kepala Daerah di Aceh
Bencana ini merupakan ujian bagi seluruh kepala daerah di Aceh. Para pemimpin harus mampu bertahan dan bekerja dalam kondisi keterbatasan. Prioritas harus jelas, penggunaan anggaran harus bijak. Kepala daerah yang mampu membawa wilayahnya bangkit dari keterpurukan insyaAllah akan menjadi contoh pemimpin ideal bagi Aceh.
Sebaliknya, bagi kepala daerah yang selama ini kuat membangun pencitraan di media sosial maupun media mainstream—kini saatnya membuktikan. Jika tidak mampu menunjukkan kinerja nyata pada saat rakyat membutuhkan seperti saat ini, maka selesailah narasi besar yang selama ini dipromosikan.
Saatnya Tegak, Berani, dan Berdaulat
Para pemimpin Aceh, tegakkan kepala. Jadikan bencana ini momentum untuk bergerak lebih cepat dan lebih tepat. Beranilah mengambil terobosan yang mungkin tidak populer, namun berpihak pada rakyat. Mulailah menata sektor pertambangan serta kehutanan secara tegas dan berdaulat. Jangan biarkan oligarki merongrong kepentingan dan kekayaan Aceh.
Kepada Abangnda Muzakkir Manaf, hapuslah air mata itu. Engkau tidak boleh lemah. Aceh menggantungkan harapan pada dirimu. Harapan akan kesejahteraan, pendidikan yang baik, dan layanan kesehatan yang layak. Diatas pundakmu kini terpikul amanah hampir enam juta jiwa rakyat Aceh. Bangkitlah, tegakkan kepala, karena rakyat menunggu langkah langkah strategismu.
Begitu pula untuk para bupati dan wali kota di seluruh Aceh. Bencana ini adalah ujian kredibilitas. Jika kalian terpeleset, rakyat tidak lagi membutuhkan kalian.
Dari Diaspora Aceh untuk Aceh Darussalam
Harapan juga kita tujukan kepada seluruh diaspora Aceh. Aceh bukan sekadar etnis, Aceh adalah bangsa berdaulat yang kini menjadi bagian dari republik ini. Karena itu, marilah kita “yak ta saweu gampong”. Meski kita jauh di rantau, ciptakan ruang untuk ide, peran, dan kontribusi bagi Aceh.
Berkontribusilah dengan apa yang kita miliki apakah itu ilmu pengetahuan, karya, gagasan, maupun dukungan untuk membantu Aceh bangkit, mendukung gubernur dan para kepala daerah dalam memperbaiki keadaan setelah bencana banjir ini.
Baraqallah, semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada Ulama, Umara, dan seluruh masyarakat Aceh. Semoga kita tetap tegar, mampu memulihkan apa yang hilang, serta melengkapi apa yang masih perlu disempurnakan.
Salam ta’zim dari pesisir Selat Malaka, untuk Aceh yang lebih makmur dan berdaulat.
Editor : Reza




