AMSNews.id – Azhari Hamid tanggapi peryataan anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Demokrat Benny K Harman yang menganggap kalau Aceh begitu bergantung dengan dana otonomi khusus dari Pemerintah Pusat.
“Terjadi sesat fikir dari yang bersangkutan dimana Aceh hanya dapat membangun jika dana otsus tersebut diberikan kepada Pemerintah Aceh, Naif sekali” ujar Azhari
Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Juru bicara KPA Aceh Zakaria N Yacob atau yang lebih kita kenal dengan Jack Libya, MOU Helsinki jangan ditarik ke dalam permasalahan politik aktivis yang meniscayakan perjuangan rakyat Aceh menuntut keadilan dan kesejahteraannya.
Menurut dia, seharusnya terdapat tuntutan kecurigaan Aceh dalam Ketatanegaraan Indonesia saat ini, dan MOU Helsinki tetaplah MOU dimana masyarakat Aceh pada satu kondisi tidak lagi percaya akan apa yang disepakati tersebut maka kita bisa kembali ke meja perundingan tentang warisan Aceh.
” harus hati-hati berbicara dan mencolek masalah MOU Helsinki ini dan sangat mungkin Benny akan terjebak dalam konflik psikologi dengan rakyat Aceh di kemudian hari”
Rakyat Aceh sesungguhnya tidak memerlukan MOU tersebut yang dibutuhkan rakyat Aceh adalah keadilan dalam pengelolaan sumber daya daya dan sinergitas sebagai pemerintah otonom dalam bingkai negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah disepakati sementara sampai saat ini.
Selain itu Zakaria juga mengingatkan Benny K Harman untuk instrospeksi tentang bagaimana Pemerintah RI saat itu dipimpin oleh SBY yang notabene adalah sesepuh partai dimana dirinya bernaung saat ini.
“Begitu sulitnya menjelaskan saat kontestasi pilpres SBY periode kedua, Aceh telah memberikan kepercayaan besar kepada SBY untuk memimpin kembali Indonesia dengan persentase kemenangan mutlak di Aceh” Tegas Zakaria
Disisi lain, Azhari Hamid juga menegaskan agar MOU Helsinki jangan diseret seret sebagi alasan bangsa Aceh untuk sebuah keuntungan finansial dengan nama dana Otsus. Mari kita lihat bahwa MOU Helsinki adalah perjuangan bersama bangsa ini untuk mencapai kesetaraan dan kemerdekaan Aceh adalah sebuah hasil kesepakatan yang menyeluruh yang diimplementasikan dengan MOU tersebut.
Saya berharap agar seluruh pemangku menghargai kebesaran jiwa bangsa Aceh yang salama ini sudah menyatu dalam Negara yang kita banggakan, Titip salam dan rindu kami sekeluarga untuk Aceh tercinta dari tepian bantaran Selat Malaka.
Azhari Hamid Sandang
Putra Aceh yang tidak pernah bermukim di Aceh




